Selasa, 25 November 2014

Kemanjuran Sarana Komunikasi

Politik media saat ini banyak berpartisipasi melaporkan atau mengkontribusi dalam hal politik atau masyarakat aktif. baik dari lingkungan, televisi dan online. Dalam media online masyarakat bisa bertukar pikiran sehingga terjadi pelanggaran etika. penghinaan provokasi atau janji-janji dari warga masyarakat. 
Dalam komunikasi politik kita dapat:
  1. harus mengkritisi pemerintah
  2. melek politik
  3. peka terhadap isu politik
  4. sadar hak dan kewajiban warga negara

Politik dalam media ialah persaingan antara berita lain yang tidak kalah menarik seperti infotaiment dan program hiburan. politik musiman yang timbul dari media yaitu pemilu, skandal politisi atau pejabat, pilkada, kkn melibatkan politisi. untuk dapat menarik simpatio audience maka berita politik harus dikemas secara menarik.

Budaya politik demokrasi adalah pemerintah akan segera diserang bila mencoba mendikte pesan pada publik, tetapi pemegang modal tidak dapat dengan mudahnya menentukan agenda setting. Melalui media para pemilik modal dapat memberikan tanggapan terhadap langkah politik pemerintah.


Sumber: Dr. Haryatmoko, penerbit kanisisus manipulasi media kekerasan dan pornografi

Kekerasan Dalam Media Massa

Kekerasan dalam media menurut Dr Haryatmoko terbagi 3 yaitu:
  1. kekerasan dokumen: menampilkan berbagai fakta kekerasan baik perbuatan/kata-kata. menampilkan gambar kekerasan yang dipahami pemirsa atau pembaca dangan mata telanjang sebagai dokumentasi atau rekaman fakta kebenaran. Menampilkan berbagai tindakan kekerasan yang disekenariokan. Dapat di presentasikan melalui tindak pembunuhan, pertengkaran, kerusuhan, tembakan. situasi yang di alami adalah konflik, luka, tangis. Dan tulisan pemberitaan media yang merugikan kehidupan pribadi atau kelompok.
  2. kekersan fisik: Menampilkan berbagai tindakan kekerasan yang diskenariokan. kekerasan ini dibuat seolah-olah sama dengan kekerasan dalam kehidupan nyata. dapat ditemukan dalam berbagai adegan kekerasan di film, sinetron, reality show, smackdown dan tayangan kartun.
  3. kekerasan simulas: Kekerasan dalam permainan peran (simulasi) seolah-olah kita yang mengalami. kekerasan ini berasal dari dunia virtrual yaitu permainan dari video game dan permainan on-line. permainan ini menampilkan permainan dan peranannya masing-masing berbagai hal yang tidak dapat dilakukannya di dunia nyata, sehingga apabila tidak dikontrol akan sulit untuk membedakan kenyataan rill dan peran dari dunia virtual. 
Bahaya  kekerasan dalam media (hasil study American Pshychological Assosiation 1995) menampilkan program kekerasan meningkatkan agresif, memperhatikan secara langsung secara berulang-ulang tayangan kekerasan dapat menyebabkan ketidak pekaan terhadap kekerasan dan penderitaan korban. tayangan kekerasan dapat meningkatkan rasa takut, sehingga akan menciptakan representasi dalam diri pemirsa, betapa berharganya dunia.

Tindakan kekersan bisa terjadi dalam film kartun, sinetron, komedi, film, permainan video game, vidoe musik, komik dan iklan. dalam peraturan KPI (komisi penyiaran indonesia) tentang standar program siaran tahun 2012, pelanggaran dan pembatasan kekerasan diatur dalam undang-undang penyiaran. Sehingga media  harus mempunyai batas-batas dalam menayangkan suatu acara.

Selasa, 18 November 2014


KEAKRABAN MAHASISWA DAN SATPAM UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA



Senin, 03 November 2014

Konten Pornografi Di media Massa

Menurut R. Ogien, 2003 pornografi adalah eksplisit (gambar, tulisan dan foto) dari aktivitas seksual atau hal yang tidak senono, mesum atau cabul yang dimaksudkan untuk di komunikasikan ke publik. pornografi dalam media juga tak terbatas sehingga banyak yang menampilkan pornografi baik yang ada dalam tabloid, koran, televisi, film, video musik, dan internet.

alasan utama organisasi media massa masih menayangkan konten yang berbau pornografi ialah karena adanya kepentingan ekonomi bagi organisasi media untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya sehingga melupakan peranannya sebagai watchdog dan pemberi informasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

seperti yang ada dalam teori kultivasi media adalah orang menjadi suatu yang biasa dan menonton tayangan ini secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama sehingga membuat orang terdorong untyuk melakukan hal-hal yang berbau pornografi.

penolakan akan pornografi:
  1. menimbulkan rangsangan seksual sehingga akan mendorong prilaku yang membahayakan atau merugikan orang lain dan diri sendiri
  2. penyebaran pornografi berbahaya bagi psikologis anak 
  3. dikawatirkan dapat meningkatkan tingkat kekerasan pada perempaun
Sehingga disarankan kepada pemerintah harus menegur dan memberi sangsi yang tegas kepada media yang bersangkutan yang menayangkan program yang berabu pornografi, agar tidak menayangkan hal-hal yang berbau pornografi karena membuat orang melakukan hal-hal yang negatif. seharusnya media menanyangkan program-program yang berbau edukasi agar dapat menambah wawasan terhadap orang yang mengonsumsi media tersebut.

Refrensi: Ogien. R, 2003:31,47 The hand book of communication ethics